Categories
Berita

Ombudsman Akhirnya Puas atas Penjelasan Polisi

JAKARTA — Setelah bersuara lantang mempersoalkan penembakan mati 15 orang dalam operasi pemberantasan kejahatan jalanan, Ombudsman Republik Indonesia akhirnya menyatakan bisa menerima penjelasan Kepolisian Daerah Polda Metro Jaya. Komisioner Ombudsman, Adrianus Meliala, mengatakan puas atas keterbukaan polisi. Apalagi, menurut dia, polisi juga telah memberikan penjelasan rasional atas tindakannya dalam operasi pemberantasan begal. “Jika di luar itu ada fakta lain, itu di luar tanggung jawab kami,” ujar Adrianus di kantornya, kemarin. Ombudsman pertama kali mengundang polisi pada Rabu pekan lalu. Kala itu Ombudsman meminta polisi menyerahkan data administrasi seputar operasi pemberantasan penjahat jalanan menjelang perhelatan Asian Games 2018. Namun, dalam pertemuan pertama itu, polisi tak menyerahkan data yang diminta. “Kami kecewa, karena mereka mengaku sibuk,” ujar Adrianus, Selasa lalu. Kemarin, perwakilan Polda Metro Jaya memenuhi undangan Ombudsman untuk kedua kalinya.

Ombudsman masih meminta penjelasan ihwal dugaan maladministrasi dalam operasi Cipta Kondisi Kewilayahan Mandiri yang berlangsung sejak 4 Juli lalu. Adrianus menuturkan, dalam pertemuan terakhir, polisi menyerahkan berkas-berkas administrasi yang diminta lembaganya. Berkas tersebut antara lain berupa surat perintah, surat tugas, laporan polisi tipe B, berita acara pasca-penembakan, hasil visum et repertum, dan berita penyerahan jenazah kepada keluarga. “Tinggal dokumen SP3 (surat perintah penghentian penyidikan) yang belum ada,” kata Adrianus. Dia menambahkan, Ombudsman tak akan membeberkan data dari kepolisian kepada publik. Berkas dari polisi, kata dia, akan disimpan Ombudsman sebagai bentuk pertanggungjawaban. Sampai pekan ketiga operasi antibegal, Polda Metro Jaya telah menangkap 1.900 orang, sebanyak 767 di antaranya ditetapkan sebagai tersangka. Hingga pekan keempat, polisi menembak 56 orang yang dicurigai sebagai begal atau penjambret—15 orang di antaranya tewas. Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Nico Afinta, menjelaskan ,penembakan begal dan jambret hingga tewas hanya dilakukan ketika pelaku melawan dan membahayakan polisi atau masyarakat. “Dari total yang kami tangkap, hanya 1,5 persen yang kami tembak mati,” kata dia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *